Negeriku Sakit

Kondisi Negeriku saat ini menderita penyakit yang parah, contohnya wakil rakyatnya tuli, pemerintahan yang rabun,  keadilan hukum kaku, aparat keamanan amnesia, kerukunan beragama lumpuh, dunia musik cenat-cenut tingkat tinggi, dunia film mati akal, bahkan dunia sepak bola semakin cacat. Jika semua hal itu diderita oleh satu orang, maka orang tersebut sudah tak bisa dianggap hidup lagi. Apakah negeriku juga sudah tak pantas dianggap hidup?

Wakil rakyat Negeri ini sudah tuli, mereka tak bisa mendengar jeritan rakyat yang memilih mereka. Seharusnya mereka duduk di gedung tersebut dengan membawa nama rakyat di dadanya dan membela kemakmuran bangsanya. Tak sepantasnya mereka mengangkat nama mereka sendiri dan bermewah-mewah secara massal di gedung beratap hijau itu. Aku sedih mendengar rencana renovasi toilet yang biayanya hingga 8 digit. Dalam khayalan aku, toilet tersebut beralas permadani, dindingnya dilapisi emas, dan berisi segala kemewahan lainnya. Kenapa dana tersebut tidak dialihkan ke pendidikan, pemulihan sarana publik, atau pembangunan daerah-daerah tertinggal?.
Pemerintah di Negeri  ini semakin rabun, penglihatan mereka semakin pudar. Mereka tak bisa melihat jelas apa yang terjadi pada rakyatnya. Mereka tak bisa melihat tempat yang jauh, bahkan tempat yang dihadapan mereka pun sudah tak jelas mereka lihat. Geleng-geleng kepala aku melihat layar televisi yang berisi berita pembantaian massal di Mesuji. Dimana pemerintah saat itu?, Mereka hanya duduk diam dan mendengar nasehat orang-orang terdekat mereka "semuanya baik-baik saja pak". Wajarlah pemerintah percaya, karena mereka tak bisa melihat kenyataan yang ada, mereka hanya bisa mendengar dan mendengar.

Keadilan hukum di Negeriku  sudah kaku, mereka benar-benar kaku dalam menjalankan tugas mereka. Hakim, sebagai penegak hukum seharusnya mereka bisa menggunakan nurani mereka dalam mengambil keputusan. Rasanya ingin berontak mendengar berita-berita tentang anak di bawah umur diadili dan diancam penjara bertahun-tahun karena mencuri sendal jepit. Apakah nurani mereka sudah mati?, kenapa anak itu harus diadili?, apakah sudah tak ada lagi jalan damai?. Kenapa anak itu mencuri sendal jepit, menurut aku karena mereka tak sanggup membelinya. Untuk membeli sendal jepit saja mereka tak sanggup, dan sekarang mereka harus membayar biaya persidangan yang nilainya berkali-kali lipat dari harga sendal jepit tersebut.

Aparat keamanan negeriku amnesia,  Bapak polisi dan aparat keamanan lainnya sudah amnesia. Mereka lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka. Mereka seharusnya membela dan melindungi keamanan rakyat. Bukan dengan ikut-ikutan membantai dan memukuli orang-orang yang seharusnya mereka lindungi. Aku teringat dengan kasus di Bima yang menewaskan beberapa orang rakyat sipil. Menyedihkan memang, tapi itulah yang terjadi bahwa aparat keamanan sudah amnesia. Rakyat sudah tak mempunyai pelindung, jadi wajarlah mereka angkat senjata untuk membentengi diri.

Kerukunan beragama semakin lumpuh, Ketuhanan yang Maha Esa, bunyi ayat satu pancasila. Rakyat Indonesia bebas memeluk agama dan kepercayaan masing-masing dan memperoleh perlindungan dalam menjalankannya. Begitulah seharusnya amanat yang terkandung dalam ayat satu pancasila tersebut. Tapi apa yang terjadi saat ini, kenyamanan dan keamanan dalam memeluk agama sudah semakin lumpuh. Umat Islam sedang sholat jumat dihajar Bom, umat kristen dan gerejanya dihancurkan dengan bom bunuh diri. Teroris, merekalah pelaku kejadian bom tersebut. Apakah yang mereka lakukan benar?, mereka mengatakan itu jihad di jalan Allah, dan ganjarannya adalah mati sahid serta surga. Tapi menurut aku itu sia-sia, mereka mati dengan sia-sia, dan mereka tidak akan mendapat kedamaian surga.

Dunia musik cenat-cenut, seperti itulah keadaan musik di negeri ini, sedang cenat cenut. Layar televisi dipenuhi oleh goyangan Boy band dan Girl band, dan yang paling menyedihkan adalah mereka tampil dengan lipsing. Apa mereka tak punya suara bagus?, menurut aku mereka memang tak punya itu, suara mereka kalah dengan suara pengamen bus antar kota, suara pengamen itu  lebih berkualitas.

Dunia Film mati akal, wajarlah saya mengatakan itu. Apalagi saat melihat film yang sedang diputar di bioskop. Aku semakin tertawa ketika membaca judul-judul film tersebut, semua judulnya aneh bin ajaib. "Pocong ngesot" "kuntilanak Kesetanan" "pocong mandi goyang Pinggul" "pocong minta kawin". Pocong sudah identik dengan kain putih dan lompat lompat, kalau dia ngesot itu tidak boleh dibilang pocong, harusnya namanya hantu ngesot aja. Kuntilanak, nyata-nyata dia setan, mana mungkin bisa kesetanan. Pocong mandi, baru kali ini aku mendengar ada pocong yang mandi, mungkin karena dia sudah tidak tahan dengan baunya kali yah. selanjutnya ada pocong yang minta kawin, garuk-garuk kepala aku membaca semua judul tersebut. Tak ada satupun yang bisa diterima oleh akalku ini. Yang semakin membuat aku tertawa adalah, hampir keseluruhan film horor itu dibumbui dengan tampilan semi bokep. Bahkan ada film yang semi bokepnya lebih banyak dibanding horornya. 

Sepak Bola di negeriku semakin cacat, kisruh PSSI semakin parah. Aku tak bisa lagi berkata banyak soal Pengurus sepak bola maupun tentang kompetisinya. Yang bisa saya katakan adalah semuanya semakin cacat.  

--------------------------------------------------------*   *   *  *---------------------------------------------------------------

Lalu bagaimana menyembuhkan negeriku ini? bagaimana mengobati semua penyakit yang dideritanya?

Akupun tak tahu bagaimana mengobati semua itu, ini telah terjadi dan semakin lama semakin menjamur. Tapi menurut aku,  mereka harus diobati dengan cara yang tepat. 
1. Wakil rakyat yang tuli, sebaiknya dia diberi alat bantu pendengaran
2. Pemerintah rabun, seharusnya diberi kacamata
3. Pengadilan kaku, beri pelumas dan buka nurani mereka
4. Aparat keamanan amnesia, pukul lagi kepalanya biar ingatannya kembali pulih
5. Kerukunan agama lumpuh, beri terapi yang pas
6. Dunia musik cenat-cenut, beri obat sakit kepala
7. Dunia film mati akal, tambahkan akal mereka
8. sepak bola cacat, bunuh saja sekalian.

Solusi itu memang sangat aneh, tapi hanya itu yang ada dibayangan aku. Karena aku tak bisa lagi memikirkan bagaimana cara mengobati negeriku yang sakit ini. Tapi bukan berarti semuanya sudah berakhir, masih ada cara yang bisa kita lakukan, yaitu perbaiki generasi muda negeri ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel